Mempelajari Makna Penting Dalam Hidup dari Sebuah Smartphone

Tahun 2019 menandai genap lima tahun sejak gue pertama kali memutuskan untuk menjadi penulis. Yang dulunya hanya sekedar menuliskan ide-ide sederhana tentang dunia, atau berkreasi menyalurkan kegelisahan hati melalui puisi, sekarang sudah lebih aktif menulis di platform WordPress. Layanan blogging yang udah nemenin gue selama 5 tahun—dari tahun 2014 hingga 2019.

Menulis itu memang ruang lingkupnya luas banget. Tapi gue menggeluti hobi ini hanya sebatas mencakup pada blogging—menulis pada platform digital, yang belakangan ini pertumbuhannya udah mulai meningkat. Gue banyak menemui pengalaman dan kenikmatan baru selama menulis. Salah satunya, gue jadi lebih gemar membaca. Karena hakikatnya, penulis yang baik sudah pasti adalah pembaca yang baik juga. Antara menulis dan membaca, itu sudah sejalan. Begitu juga dengan berbicara dan mendengar, Semuanya punya dampak timbal balik yang saling melengkapi satu-sama lain.

Tapi gue tidak pernah membayangkan memperoleh banyak keuntungan dari menulis. Salah satunya adalah memenangkan kontes menulis—lebih beken disebut blogging competition, yang intinya mengumpulkan tulisan-tulisan terbaik dari peserta, dinilai, dan akan diberikan hadiah.

Nah pasti udah ketebak arahnya kemana nih. Yup, pada tahun keempat gue sebagai blogger, gue akhirnya berhasil memenangkan kontes blog pertama gue. Sebut saja namanya Infinix—vendor ponsel pintar dari Hongkong—baru saja memulai persaingannya di pasar Indonesia—mengadakan kontes review atau ulasan tentang smartphone terbaru mereka saat itu, Infinix Note 4. Tulisan yang gue kirimkan ke mereka, berhasil menyabet satu dari tiga tulisan yang beruntung yang memenangkan satu unit Infinix Note 4.

in memoriam

Seneng bukan main. Gue bahagia banget. Tapi sayangnya paragraf ini harus gue akhiri kebahagiannya lebih cepat, karena dua bulan setelahnya, Infinix Note 4 gue berpindah tangan—lebih tepatnya dirampok oleh dua orang bermotor dengan kecepatan tinggi. Dan gue harus menjalani hari-hari selanjutnya dengan menerima kenyataan bahwa mereka mengambilnya dari gue—smartphone yang gue dapetin sendiri dengan jerih payah sendiri.

Hari-hari setelahnya, entah kenapa gue sedikit lebih bisa berpikir positif walaupun sedang dirundung kesedihan. Tapi fakta bahwa gue punya potensi untuk memenangkan kontes yang sama—atau dengan hadiah yang sama—sebuah smartphone—atau uang tunai yang juga bisa dibelikan smartphone. Gue jadi lebih serius menggarap lomba-lomba berikutnya dengan rasa kehilangan sebagai api pembakar mesin utamanya.

Tapi, gue mau cerita sedikit tentang smartphone gue yang lama. Gue begitu mencintainya, hehe. Gue merawatnya, membelikannya anti gores berkualitas, silicon case yang juga tebal, dan mengisi konten didalamnya dengan berbagai jenis hiburan favorit gue—dan sejujurnya gue mendadak jadi fans berat iflix, Netflix, segala jenis video Youtube beresolusi HD 60fps semenjak Infinix Note 4 itu jadi perangkat multimedia harian gue.

Segala settingan dan personalisasi tema gue setel sesuai dengan apa yang gue mau. Wallpaper dengan foto Park Shin Hye, tema ikon dengan Google, dan pake launcher Nova—yang pada masanya merupakan launcher terbaik dan paling banyak diunduh. Semua elemen didalam Infinix Note 4 gue sesuaikan dengan kepribadian gue.

in memoriam 2

Nah balik lagi ke usaha ikutan lomba berikutnya. Biar gue ingat sebentar. Nah, pada pertengahan bulan Juli yang lalu, gue akhirnya menang kontes blog lagi. Kali ini vendornya itu ialah Advan. Nah beruntungnya lagi, gue terpilih jadi juara pertama yang dihadiahi Tiket Wisata PP dari Jakarta ke Thailand, beserta satu unit smartphone Advan i6—yang juga adalah ponsel keluaran terbaru Advan pada saat itu.

Fyi, rincian penerima hadiahnya itu seperti ini. Juara satunya dapet tiket pesawat dan satu unit Advan i6, pemenang kedua dapetin satu unit Advan i6 dan voucher belanja senilai Rp. 1jt, dan pemenang terakhir dapetin satu unit Advan i6 beserta voucher belanja senilai 500k.

Nah pada dasarnya nih gue cuma pengen fokus ceritain hadiah smartphonenya, tapi kurang afdol saja rasanya kalau tidak membahas hadiah utamanya. Nah hadiah utamanya sebenarnya adalah tiket pesawat PP dari Jakarta-Thailand. Cuman gue entah kenapa bersikeras agar hadiah ini diuangkan saja, karena beberapa alasan berikut

  • Gue lagi butuh uang—alasan pertama yang sangat tidak bisa diperdebatkan lagi.
  • Gue belum punya paspor, dokumen, atau segala hal yang perlu dipersiapkan buat melancong ke luar negeri.
  • Hadiahnya hanya mencakup tiket pesawat PP Jakarta-Thailand, belum termasuk akomodasi, biaya visit landmark, uang saku, dll.
  • Masih berkaitan dengan alasan diatas; Gue berdomisili di Medan, sementara titik keberangkatannya dari Jakarta menuju Bangkok. Otomatis gue mesti beli tiket lagi dari Medan-Jakarta ketika pergi, dan Jakarta-Medan ketika pulang. Nah boros banget kali.
  • Panitia mengatakan tanggal keberangkatan berkisar antara pertengahan Agustus-September, sementara pada saat itu sudah memasuki masa-masa perkuliahan.
  • Dan yang terakhir, gue benci ladyboy.

Akhirnya ketika gue utarakan semua alasan diatas kepada panitianya, permintaan gue finally disanggupin oleh mereka. Tapi gue tetap kecewa karena solusinya bukan melalui pencairan dana, tetapi diganti dengan voucher yang bisa dijual lagi untuk menghasilkan uang. Total ada sekitar 12 lembar voucher travel yang per lembarnya bernilai 500k, terus gue jual, dan akhirnya dana yang terkumpul gue beliin laptop baru.

Sekitar dua minggu setelah pengumuman resmi tsb, akhirnya paket berisikan ponsel dan voucher gue pun tiba. Dan disinilah keanehannya dimulai.

Entah kenapa gue merasa tidak menginginkan Advan i6 itu. Jujur, pada saat itu gue sering dipengaruhi oleh komentar-komentar netijen Indonesia yang menganggap produk Advan itu buruk dan tidak mampu menyaingi kecanggihan hape luar negeri yang merajai Indonesia saat ini. Dan, akhirnya, dibalik rasa bahagia gue mendapatkan ponsel Advan i6, diam-diam gue berencana untuk menjualnya dengan utuh—mungkin tukar tambah dengan sejumlah uang, untuk membelikan ponsel yang punya spesifikasi lebih tinggi.

Ini tentunya sangat bertolak-belakang dengan cara gue menulikan review pada tulisan gue sendiri yang mengulas kehebatan dan kecanggihan Advan i6 sehingga layak bersaing dengan merk luar. Hahaha, dasar pengkhianat yakan. Tapi tunggu dulu. Bukan sepenuhnya pengkhianat sih. Hanya aja gue pengen melakukan investasi, membelikan ponsel yang lebih terbaru untuk bisa eksis di beberapa tahun kedepan. Nah, akhirnya gue udah memutuskan untuk menjual Advan i6 ini, langsung setelah gue menerima paketnya.

Sialnya, dengan disaksikan mama dan adik-adik, gue terpaksa mengurung niat menjual ponsel tsb karena udah terlanjur di-unbox dan otomatis segelnya hilang. Jadi terhitung mulai bodi ponsel itu disentuh oleh tangan gue, ya statusnya bukan baru lagi.

Yaudah, singkatnya, hari-hari selanjutnya gue habiskan bersama Advan i6 dengan biasa aja. Ya bayangin aja keselnya hampir punya hape baru harga 3jutaan buyar seketika karena sekeluarga pengen ngunbox kali itu juga. Gue terlalu sungkan untuk jujur mengatakan bahwa gue punya rencana untuk menjual Advan i6 ini, untuk itulah gue akan membiarkannya tetap tersegel. Yang ada, mama bakal mulai ngomel dan bilang

“Kamu itu ya, udah dapet hadiah gratis, plus voucher bernilai jutaan, hapenya malah pengen dijual! Ga ada rasa bersyukur sama sekali.”

Jadi gue mulai membiasakan hari-hari selanjutnya bareng Advan i6. Tapi perlakuannya tentu aja ga sama ketika gue masih punya Infinix Note 4. Kalian pasti dah menangkap arah selanjutnya dari pembahasan gue selanjutnya. Yap. Gue gak bersyukur menerima kehadiran ponsel lokal ini dalam hidup gue.

Disaat gue melamun, gue selalu memikirkan hal hal seperti

“Ini kalau dijual lagi kira-kira berapaan ya”

“Terus gue mesti nambah berapa”

“Ada ga ya yang mau nerima ini?”

Nah, tentang perkataan gue tadi soal perlakuan gue terhadap Infinix Note 4 dan Advan i6 yang berbeda, ini terasa banget dan gue akui memang sepenuhnya benar. i6 gue perlakukan seperti seolah-olah itu hanya HAPE TITIPAN. Jadi, settingannya belum gue personalisasi, WALLPAPERNYA MASIH BAWAAN, males nginstall game dan aplikasi penting (masih pake aplikasi bawaan + WA dan FB Lite), gue gak beliin aksesoris (Tempered glass, case), gue gak fasilitasi dengan Kartu Memori (padahal sebelumnya, ketika gue pakai Infinix Note 4, gue langsung pesan SD Card Samsung berukuran 32GB 3 hari setelahnya), dan paling fatalnya, gue gak migrasi data-data gue sebelumnya ke Advan i6.

Jahat banget ya. Tradisi gue abis beli ponsel baru, malemnya gue pasti begadang, pindahin semua hal-hal yang perlu dan segala jenis multimedia dari laptop, seperti musik, MV, wallpaper, gambar, hingga koleksi ebook PDF gue yang sekarang ini sudah mencapai 200an lebih. Tapi, karena gue merasa Advan i6 ini hanya sebagai ponsel sementara, seolah-olah setelahnya gue akan punya ponsel baru dalam jangka waktu dekat, yaudah jadi gue asingkan aja gitu.

Disitu kekeliruan gue dimulai.

Waktu mulai berjalan terlalu cepat. Gue mulai merasakan peran penting dari i6 untuk segala kebutuhan multimedia dan urusan sehari-hari. Sementara di lain sisi, kemungkinan gue untuk upgrade ke smartphone baru mulai terasa tidak realistis untuk terwujud. Segala budget yang tersedia selalu gue investasikan ke laptop baru gue. Misalnya pasangin SSD seharga 600k, beliin RAM baru 600k, terus beli satu set keyboard + mouse wireless baru untuk pengalaman menulis yg lebih baik 200k. Jadi gue gak merasa upgrade smartphone tidak terlalu penting, mengingat kebutuhan ponsel dasar udah lebih dari cukup buat gue dari i6 ini.

Manfaatnya lagi, karena Advan i6 ini sangat tidak bersahabat dengan kegiatan gaming, gue jadi gak terlalu candu bermain game. Padahal gue bisa menginstall 6-8 game sekaligus di Infinix Note 4 karena spesifikasinya memang cukup mumpuni buat ngegame. Gue jadi megang ponsel seadanya, dan kebanyakan waktu gue alokasikan untuk kegiatan yang bermanfaat dan bagi keluarga.

Seolah-olah untuk menebus kesalahan, gue akhirnya memperlakukan Advan i6 sebagai ponsel permanen gue. Maksudnya, beneran seperti milik sendiri. Bukan titipan. Gue backup data-datanya, gue beliin Tempered glass dan case, gue rawat sebaik mungkin, dan semua effort lainnya. Mungkin yg belum bisa gue beliin ialah kartu memori, walaupun sekarang harganya sudah relatif lebih murah.

Apa yang hendak gue katakan?

Sudah cukup tragedi kehilangan Note 4 pernah buat gue hancur gak karuan dan murung sepanjang minggu. Gue ga mau lagi itu terulang lagi. Gue harus mensyukuri apa yang gue punya sekarang ini, bagaimanapun kekurangannya, apapun yang orang lain katakan, that’s what i’ve got, so that’s it.

Makanya dari tulisan gue ini sebenarnya dalem banget, makanya gue berencana buat postingan kedua setelah ini yang mungkin lebih berfokus ke aspek bersyukur.

Realita di kehidupan masyarakat sekarang ini, orang-orang termasuk gue kurang mensyukuri hal-hal yang mereka punya. Orang-orang terlalu fokus mencari hal-hal yang lebih baik, hingga lupa bersyukur.

“Appreciate what you have before it becomes what you had.”

Syukuri, nikmati apa yang kamu punya, sebelum itu menjadi hal yang “pernah” kamu punya, karena semua hal akan berakhir pada waktunya. Itu pasti.  So, sebelum gue terlambat untuk tidak bersyukur, setidaknya dengan menulis postingan ini, gue kembali tersadar akan suatu hal kecil yang membuatku bersyukur dalam hidup.

Ini tentang sebuah sebuah smartphone yang berhasil mengajariku banyak pelajaran berharga dalam hidup.


 

Default image
Pieter Mardi
Penulis, Mahasiswa, Tech Anthusiast. Ketua Umum FPI. Front Pelindung Introver. Semua tulisan dibuat dengan passion saya di bidang teknologi dan bahasa Inggris. Untuk sapa-sapa hubungi [email protected]

2 Comments

  1. Pertama tama, sebelum mengomen sebagai mahasiswa,izinkan sisi netizen dengan ngebacot saya keluar.
    XBUCKS saya MANA.
    Kedua. Itu kenapa muka saya jadi walpaper (read:park shin hey hey hey)
    Ketiga. Persetanan dengan ladyboy. Kan kalo elu terbang ke thailand bisa open jastip Wqwq land. Sekian
    Anyway, wa juga dulu punya hp advan, aslik merengut mulu makeknya. Tapi sebenenrnya kualitasnya baguslah gak kalah saing cuman agak susah di speaker aja sih. Itu doang menurut ane yang tidak pakar memakar soal hape dan terlalu bucin dengan xiaomi h3h3h3

Berkomentar dapat melegakan pikiran. Cobalah!

error: Mohon maaf. tapi konten ini diproteksi!
%d bloggers like this: