Yang Kepingin Gua Luruskan, Kritik, dan Bahas Opini tentang Mega Proyek Laptop Pelajar 10 Juta Kemendikbud

Oke, selamat datang di tulisan gua kali ini. Langsung saja ke topik utamanya ya. Per tanggal 26 Juli 2021 kemarin, pemerintah kita lewat lembaga Kemendikbudristek bakal melakukan pengadaan proyek Laptop dan paket TIK untuk sekolah-sekolah di Indonesia. Dan dalam waktu yang berdekatan pula, Lembaga yang sama kali ini—menggandeng tiga universitas ternama di Indonesia, yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) melakukan riset pengembangan Laptop dalam negeri yang nantinya akan diberikan nama Laptop Merah Putih. Sementara untuk pembuatan laptopnya sendiri, pemerintah kita menggandeng enam vendor laptop lokal, yaitu

  • PT Zyrexindo Mandiri Buana;
  • PT Tera Data Indonusa;
  • PT Supertone;
  • PT Evercross Technology Indonesia;
  • PT Bangga Teknologi Indonesia;
  • dan Acer Manufacturing Indonesia.

Tujuan dari dua mega proyek tersebut?

Yaa untuk membuat mimpi bapak dan ibu dibawah ini menjadi kenyataan.

Gambar yang bisa anda dengar. “CINTAILAH PLODUK-PLODUK, ENDONESAAAH”

Facts

Faktanya kedua program tersebut adalah dua hal yang sangat berbeda, tapi memiliki tujuan yang sama. Dan untuk sementara ini terjadi banyak kesalahpahaman dan misinformasi di kalangan sosial media kita, kedua program ini disamakan begitu saja tanpa bisa menelitinya terlebih dahulu. Kalau menurut gua sendiri, cukup jelas untuk dibedakan. Gua membuat tabel dibawah ini biar lebih mudah dimengerti. CMIIW

Proyek Laptop Pelajar 10 Juta Proyek Laptop Merah Putih
Proyek pembelian laptop bagi 12.674 sekolah mulai dari SD, SMP, SMA, dan SLB, mulai dari pembelian 189.840 laptop, 12.674 access point, 12.674 konektor, 12.674 proyektor, dan 45 speaker.Produksi Laptop dalam negeri, dengan pabrik serta SDA SDM dalam negeri, wajib menggunakan kadar TKDN lebih dari 40% untuk mengurangi ketergantungan unit impor.
Kabarnya akan menggunakan tipe Zyrex Chromebook M432-1 dengan Chrome OSAkan menggandeng 6 produsen laptop lokal, seperti Zyrex, Advan, Acer Indonesia, Axioo, dll.
Harganya 10 Juta untuk Paket TIK, terdiri dari Laptop, Printer, Scanner, Konektor, Router dll.Harga yang bervariasi, tergantung kebijakan dan tipe-tipe yang akan dirilis.
Ini adalah proyek jangka pendek untuk pengadaan alat TIK ke sekolah.Ini adalah proyek berjangka panjang yang melibatkan kolaborasi R&D dengan brand laptop lokal untuk menciptakan laptop berkualitas buatan dalam negeri.
Dinyinyir dan diprotes netijen karena spesifikasinya yang tidak sesuai dengan harganya.Ikutan dinyinyir karena netizen Indonesia ga bisa membedakan kedua proyek yang sama sekali berbeda.

Proyek Laptop Pelajar 10 Juta

Jadi kali ini, kita ga akan ngebahas soal Laptop Merah Putih, tapi bakal mengulik apa sih yang unik dan kontroversi dari proyek Laptop Pelajar 10 Juta dari Kemendikbudristek. Mungkin buat Laptop Merah Putih, gua akan garap tulisannya di lain waktu.

Sampai dimana tadi? Oiya.

Total anggaran yang dihabiskan sebanyak 3.7 Triliun Rupiah yang nantinya akan digunakan untuk pengadaan unit sebanyak 189.840 laptop, 12.674 access point, 12.674 konektor, 12.674 proyektor, dan 45 speaker yang nantinya bakal dibagikan ke total 12.674 sekolah yang membutuhkan.

Tapi, sejak dirilisnya kabar ini oleh pemerintah, jujur banyak banget berita simpang siur yang beredar di sosial media, netijen yang geram mendengar besarnya anggaran proyek ini, memprotes mengapa harga per laptopnya bisa mencapai 10 juta rupiah—padahal isu ini sama sekali tidak bener.

Memang ada sebagian orang yang udah tau harga laptopnya bakal berkisaran di harga 5-6.5 juta, tetapi tetap aja diprotes. Bukan soal nominalnya, tapi spesifikasi minimum yang bakal ditanamkan di laptop Pelajar ini yang memang JAAAAAUUHH banget dari ekspektasi.

Tipe SpesifikasiBesaran
Memori RAM yang terpasang4 GB DDR4
Harddrive Penyimpanan32GB eMMC
Sistem OperasiChrome OS
Tipe ProsesorDual Core – Frekuensi 1,1 GHz , Cache 1 M
Panel Layar11″ LED Panel
DayaMaksimum 50watt
Garansi1 Tahun Garansi

Laptop dengan spesifikasi diatas ga worth sama sekali dengan harga yang diisukan, yakni 10 Juta rupiah. 10 Juta Zimbabwe Dollar? Ya jelas worth. Sepuluh juta rupiah coy. Gua aja sekilas bisa ngebayangin sebagus apa laptop yang bisa didapatkan dengan budget segitu. Jangankan buat pelajar, sekarang ini dengan budget 10 jutaan udah bisa dapat laptop yang kuat untuk editing foto dan video, hingga gaming casual.

Btw, kabar itu tidak benar. Dimana yang ga benernya? Terletak di angka nominal 10 juta rupiah yang tadi. Eh, gua sekalian buatin beberapa fakta untuk meluruskan kegaduhan informasi yang beredar, yang sekaligus bakal jadi talking points di postingan gua kali ini. Sebenarnya sih lebih enak jelasin topik beginian dalam bentuk podcast, tapi gua belom siap merilis suara gua yang merdu khas Ed Sheeran ini ke publik. Jadi kita tetap bakal ngomongin ini dalam bentuk tulisan.

Talking Points & Facts

  • 10 Juta bukan harga untuk 1 laptop. Tetapi harga untuk satu paket TIK yang berisikan Laptop, Printer, Scanner, Router dan Router Wireless, dan Konektor. Semuanya dalam satu paket. Perkiraan harga laptopnya sekitar 6.5 jutaan, dan sisanya untuk peripheral tambahan tadi dan mungkin biaya administrasi serta logistik.
  • Tentang spesifikasi yang diumumkan, itu adalah spesifikasi MINIMUM yang ditetapkan oleh pemerintah untuk Pelajar 10 Juta ini nantinya. Bukan spesifikasi FINAL.
  • Laptopnya berspesifikasi rendah karena ini adalah ChromeBook, dan OS yang digunakan adalah Chrome OS, bukan Windows.
  • Sejauh ini, brand yang digandeng hanyalah brand lokal, seperti Zyrex dll, yang bisa memproduksi laptop dengan TKDN (Total Kandungan Dalam Negeri) mencapai 30-40%.
  • Semuanya, semua informasi yang beredar saat ini, hanyalah perkiraan dan rencana sementara. Tetap menunggu, ikuti, awasi semua perkembangannya.

10 Juta itu bukan untuk 1 Laptop

Untungnya Pemerintah langsung gesit merilis klarifikasi pers kalau 10 juta itu bukan harga laptopnya aja ya, tetapi diikutsertakan dalam satu paket alat TIK berupa ruter wireless, printer, scanner, proyektor, dan juga konektor (konektor apa ini, tak dijelaskan lebih lanjut).

Sebenarnya entah dari mana nominal 10 juta untuk 1 laptop ini muncul. Saya yakin awalnya hanya kesalahpahaman, mungkin. Masyarakat kita sih, setelah melihat berita dengan headline membagongkan, seperti “Heboh, Pemerintah akan rilis Laptop Pelajar Chrome OS 4GB Seharga 10 Juta” atau “Duh! Harganya 10 Juta Tapi Spesifikasinya Mengecewakan! No. 6 Bikin Geleng-Geleng” dipastikan udah terbakar emosi duluan, dan langsung berkomentar dengan agresif tanpa membaca isi artikelnya terlebih dahulu.

Kalau diliat-liat sih, mungkin bakal kedengeran lebih worth karena 10jt itu udah dapat paket lengkap. Tapi tetap aja masih terasa janggal dengan spesifikasi laptop yg ditawarkan JAAAAUHHH banget dari kata standar—setidaknya standar spesifikasi normal yang umum kita denger.

Soalnya kaan, masyarakat kita sudah terdoktrin dengan tingkatan spek seperti, i3 dari Intel atau Ryzen 3 dari AMD itu titik acceptable untuk spesifikasi laptop, i5 atau Ryzen 5 cukup bagus, i7 atau Ryzen 7 saaaaangaaat bagus, dan belum banyak yang tau kalau i9 atau Ryzen 9 itu udah rilis, yang tentunya ditujukan buat kebutuhan extreme dan buat kaum enthusiastic.

Jika harga laptopnya mencapai 6 juta rupiah, bisa dibilang ada sisa 4 juta rupiah yang akan dialokasikan untuk pembelian perangkat peripheral untuk sekolah. Sebenarnya sih, harga peripheral pendukungnya ga mahal-mahal amat sih jika disatuin. Dan beberapa diantaranya malah kurang cocok buat pemakaian di home atau pribadi.

Contohnya untuk Printer

Terlihat dari jumlah pembeliannya yang mencapai hampir dua ribu unit terjual, printer ini emang bagus dan standar banget untuk pemakaian rumah dan office. Bahkan bisa multifungsi juga, bisa jadi ngeprint, scan dokument, dan jadi kopier. Naaah, karena printer beginian udah triple fungsi, ga perlu lagi membeli scanner scara terpisah. Cukup dengan satu perangkat, udah bisa melakukan banyak fungsi sekaligus Harganya pun cukup terjangkau, ga sampai 700 ribuan juga. Mungkin printer yang nanti bakal disertakan bakal lebih bagus, bukan lagi di kisaran ratusan ribu, tapi mungkin satu jutaan.

Kalau untuk Router sih

Gua sendiri ga bisa pukul rata begitu aja ya. Karena area yang ingin dijangkau besarannya berbeda-beda, mungkin butuh yang lebih mahal karena membutuhkan jangkauan yang lebih luas dan mampu menangani permintaan akses internet dari banyak perangkat. Mungkin berkisar 200 ribu hingga 700 ribuan terdengar good price untuk sebuah router. Emangnya mau beli router sekelas ROG untuk sekolah online, kan engga.

Kalau buat sisanya sih, seperti konektor, gua sendiri ga ngerti ya konektor seperti apa yang akan dibeli. Soalnya banyak banget definisinya. Apakah konektor buat multi USB tempat nyolokin port USB biar bisa melayanin banyak devices? Atau konektor disini maksudnya, sistem instalasi kabel dan internet untuk menyambungkan semua laptop tadi ke sumber listrik dan internet? Hanya bisa menebak-nebak ya.

Spesifikasi Minimum yang Menimbulkan Kesalahpahaman

Disinilah kaum mendang-mending memainkan peran penting. Seperti kata David dari channel GadgetIn pernah bersabda, bahwa itu kita itu makhuk ekonomi. Artinya, kita ingin mendapatkan sesuatu yang bernilai tinggi dengan harga yang sewajarnya. Disinilah letak perdebatan utama yang menggemparkan netizen kita sehingga mereka bisa sejenak melupakan kisruh siapakah pembunuh Roy yang sebenarnya.

Kita semua beranggapan spesifikasi yang rendah tadi—Dual Core dengan frekuensi 1.1GHz, 4GB RAM, 32GB eMMC adalah spesfikasi yang sudah final dan akan segera dirilis oleh pemerintah. Nyatanya tidak. Kabarnya sih, spesifikasi itu hanyalah spesifikasi minimum yang ditetapkan pemerintah. Jadi, laptop yang akan dirilis dipastikan memiliki spesifikasi perangkat keras yang sesuai atau bahkan lebih baik dari spesifikasi minimum tersebut, tergantung perkembangan proyek ini saja. Semoga aja pemerintah kita mendengar keluh-kesah netijen di media sosial agar meningkatkan lagi spesifikasi minimumnya.

Turunkan Ekspektasimu, Teman. Ini Chrome OS bukan Windows.

Terkadang kita hanya cukup menurunkan ekspektasi kita terhadap segala hal, agar bisa mensyukuri sesuatu. Agak tidak masuk akal kedengarannya kalau laptop dengan spesifikasi serendah itu menjalankan sistem operasi Windows.Tentu tim teknisnya udah mempersiapkan dan memperhitungkan spesifikasi yang kita anggap rendah itu untuk dijalankan di OS yang lebih ringan. Kalau bukan Linux, ya Chrome OS. Tapi karena penggunaan Linux sendiri di kalangan awam masih sedikit, gua rasa sih Linux ga bakalan pernah jadi OS yang umum dipakai bahkan jadi OS di Laptop Pelajar kali ini.

HardwareSpek Minimum Laptop Pelajar 10jt Chromebook dari PemerintahSpesifikasi Windows 10 yang direkomendasikan
ProsesorDual core 1.1GHz 1MB Cache2GHz atau yang lebih cepat
Penyimpanan32GB eMMC100GB
RAM4GB DDR44GB
GPUHD Integrated Graphics HD Integrated Graphics

Ya, jadi laptopnya sendiri bukan pake Windows ya. Lagian sih, laptop yang secara hardware tidak efisien dan kompatibel, mengapa harus dipaksakan menggunakan OS Windows yang berat dan banyak menggunakan resources. Menggunakan Chrome OS di laptop pelajar adalah pilihan yang tepat dan efisien.

Jadi, tolong jangan dibandingkan lagi yaa karena spesifikasinya yang rendah. Spek yang cupu tadi absolutely bakal keliatan inferior jika dibandingkan dengan spesifikasi rekomendasi untuk Windows 10. Nah, jika dibandingkan setara dengan spesifikasi ideal untuk menjalankan Chrome OS, bakal keliatan lebih rasional dan efisien pula.

Apa itu ChromeBook?

Singkat saja. Apa yang kamu lakukan ketika pertama kali menyalakan Laptop? Browser. Nah, Chrome OS yang ditanamkan di laptop bertipe Chromebook, mayoritas aplikasi dan interaksinya dilakukan didalam sebuah Browser. Tidak seperti Windows yang punya aplikasi native sendiri, di Chromebook—semua aplikasi seperti pengolah kata, spreadsheet, presentasi, dan aplikasi esensial lainnya berjalan di sebuah Browser. Kekurangannya, karena ketergantungannya terhadap browser, makanya Chromebook sangat membutuhkan koneksi internet yang stabil. Nanti gua jelasin poin ini lebih lengkap.

Balik lagi, karena laptopnya bertipe ChromeBook, tidak dibutuhkan spesifikasi yang gahar atau gede-gede amat. Toh, cuman dipake buat browsingan doang. ChromeOS itu ringan, cepat, dan tentunya tidak terlalu memakan banyak resources, karena praktis semua alokasi RAM dan Prosesor hanya dibutuhkan untuk menjalankan browser dan segala aktifitasnya.

Tipe SpesifikasiBesaran
Memori RAM yang terpasang4 GB DDR4
Harddrive Penyimpanan32GB eMMC
Sistem OperasiChrome OS
Tipe ProsesorDual Core – Frekuensi 1,1 GHz , Cache 1 M
Panel Layar11″ LED Panel
DayaMaksimum 50watt
Garansi1 Tahun Garansi

Setelah memahami apa itu ChromeBook, ternyata spesifikasinya ga terlalu buruk kan? Masih ada kok laptop Celeron Dual Core dan RAM 4GB yang diinstalin Windows 7, 8, atau bahkan Windows 10 di pasaran notebook sekarang ini. Tentunya, jika spek ‘rendah’ seperti itu diberi beban menjalankan Chrome OS yang ringan, 99% dapat berjalan dengan normal dengan sedikit kendala yang tidak terlalu berarti.

Hanya produsen Laptop lokal yang dilibatkan dalam proyek ini.

Berkaitan dengan proyek Laptop Merah Putih yang sempat kita bahas perbedaannya, ada kemungkinan laptop yang digunakan untuk Laptop Pelajar 10 Juta ini adalah laptop yang sama. Kabarnya, gua menemukan sebuah video dimana rumornya pemerintah sudah menemukan tipe laptop apa yang bakal dijadikan lini pertama proyek Laptop Pelajar 10 Juta. Dia adalah Zyrex Chromebook M432-1

Spesifkasinya hanya berbeda sedikit dari spec minimum yang ditetapkan pemerintah, bisa dilihat di tabel dibawah ini.

Spesifikasi Zyrex Chromebook M432-1 Besaran
ProsesorIntel N4020 (Core :2, 1.1GHz Maks 2.8GHz, Cache 4MB)
RAM & Storage4GB LPDDR4 & eMMC 32GB
Ukuran Layar11.6 Inch LED, HD 1366 x 768 resolution, 16:9 aspect ratio
KoneksiWLAN 802.11ac/b/g/n wireless LAN, Dual Band (2.4 GHz and 5 GHz), Supports BT 5.0
OSChrome OS (butuh akses Internet)
TKDN + BMPTKDN 37.09% dan BMP 44,59%

Mulai dari prosesor dan RAM nya menurut gua sudah sangat cukup untuk menjalankan ChromeOS. Yang agak sedikit disesalkan adalah kapasitas internalnya yang hanya 32GB, mungkin hanya cukup untuk menampung file tugas-tugas sekolah dan file persentasi aja ya. Jika ingin menambah storage, mungkin bakal lebih mengandalkan cloud—karena sudah terintegrasi dengan penyimpanan cloud gratis dari Google yakni Google Drive—dan penyimpanan eksternal seperti flashdrive atau harddisk eksternal.

Let’s Wait and See Where it Goes

Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Jadi,sebelum mulai marah-marah dengan mention akun Pak Jokow dan mengotori timeline twitter gua, ada baiknya riset dulu, cari info mendalam dulu tentang isu yang saat ini beredar, biar ga keliatan tolol ketika berargumen. Gua mah bodo amat dengan potensi korupsi oleh pemerintah, soalnya mereka sudah berencana membuat sebuah fasilitas e-budgeting dan menjamin transparasi dari setiap pembelian unit di sebuah website.

Tugas kita hanya mengawasi, mendukung, dan aktif memberikan kritik saran yang konstruktif ke pemerintah kita yang sekarang ini. Bismillah Komisaris

Part II : Kritik, Saran, dan Anjuran dari Gua Seorang Blogger.

Untuk merealisasikan kalimat gua di akhir paragraf yang tadi, ada baiknya gua turut memberikan pandangan dan opini gua yang sebenarnya, yang kiranya bermanfaat untuk menyempurnakan mega proyek ini. Disclaimer, gua bukan ahli IT yang bersertifikasi—mungkin bakalan ada kesalahan atau ketidaksesuaian info yang gua berikan dengan realita di lapangan, tapi gua sebisa mungkin menyajikan saran dan kritik yang paling terbaru.

Talking Points & FAQ

  • Apakah Laptopnya beneran cocok untuk Pelajar?
  • Penyebaran Internet di Indonesia saja tidak merata, kenapa harus menggunakan Laptop berbasis Cloud?
  • Perihal Garansi, Apakah Pemerintah lepas tangan begitu saja?
  • Transparansi Pembelian dan E-katalog dari Pemerintah

Laptopnya beneran cocok untuk Pelajar?

Ya, iya, dan tentu saja iya. Gua rasa ga butuh spesifikasi yang gahar untuk menjalankan aktivitas esensial di lingkungan sekolah. Mungkin hanya sebatas, pengolahan kata, data, persentasi, browsing, research, dan sesekali dengerin musik atau video Youtube di kala senggang. Dan kebetulan, lisensi ChromeOS yang ditanamkan di laptop Pelajar ini adalah ChomeOS Education. Artinya, semua aplikasi dan layanan didalamnya tentu sudah dioptimasi untuk keperluan pendidikan.

Orangtua siswa pun jika ditanya, ini adalah tipe laptop ideal buat anak-anak mereka disekolah. Spesifikasinya yang pas, cocok sekali untuk kegiatan sekolahan. Karena jika anak SMP atau SMA udah minta dibeliin seri ROG, Legion, atau bahkan Alienware untuk ngerjain tugas, percayalah Bund, itu 100% hoax yaa. Ntar malah kebablasan main game, tugas sekolah dibiarin terbengkalai.

Jadi, gua, secara personal 100% approved tentang kebijakan menggunakan laptop dengan sistem ChromeOS didalamnya sebagai laptop pelajar. Mungkin hanya di bagian harganya aja yang terlalu kemahalan. Nominal 6.5 juta itu beneran mahal banget untuk sebuah Chromebook. Idealnya sih, berkisar 3.5jt hingga 5jt maksimalnya.

Mending Dananya dipakai untuk Pembangunan Infrastruktur 4G

Kali ini gua 100% setuju dengan kaum mendang-mending. Dan inilah permasalahan paling utama dari proyek Laptop Pelajar ini. Kali ini bukan soal harga atau spesifikasinya, tetapi soal OS yang ditanamkan di laptop ini, yakni ChromeOS yang sangat tergantung dengan koneksi internet agar dapat berfungsi optimal. Literally, Browser tanpa koneksi internet, kita cuman bisa main Dinosaur ngelompat-lompat doang disana. Chromebook juga begitu, 11-12 sih, ga berani juga gua menyamakannya secara total.

Kita tau sendiri kalau pembangunan infrastruktur dan perataan jangkauan Internet di Indonesia masih sangat timpang dan lebih keliatan tersentralisasi di kota-kota besar, khususnya di Pulau Jawa. Disaat beberapa daerah masih belum tercover jaringan 4G, Negara kita tercinta ini seolah-olah ga mau kalah dari negara lain untuk ngembangin 5G.

JANGANKAN 4G, JARINGAN 3G H+ DI BEBERAPA KOTA DI PEDALAMAN MASIH BELOM MAKSIMAL

JANGANKAN 3G H+, MASIH ADA LHO DAERAH YG BELOM TERCOVER JARINGAN TELEKOMUNIKASI

JANGANKAN…

Udah deng, kalau dilanjutin ga bakal abis-abis. Poin yang berusaha gua sampaikan udah dapet ya. Tapi gua masih belom bahas dan menekankan lebih dalam soal ChromeBook dan hubungannya dengan koneksi jaringan yang stabil.

Gini, Chromebook itu OS yang berbasis browser yang sangat membutuhkan koneksi internet untuk berjalan normal selayaknya Laptop atau alat komputasi. Simpelnya sih, pengguna ChromeBook dijamin harus mendapatkan akses internet—setidaknya tidak harus cepat—namun stabil. Statement ini melahirkan banyak pertanyaan dan misteri yang baru yang kudu segera diselesaikan sebelum dirilisnya Laptop Pelajar ini ke publik.

  • Bagaimana jika siswa atau sekolah tinggal di daerah yang tidak terjangkau sinyal internet yang cukup?
  • Apakah siswa juga harus membiayai kuotanya sendiri untuk mengoperasikan ChromeBook miliknya?
  • Ada ga jaminan bahwa internet akan selalu reliable ketika PBM sedang berlangsung?

Gua sih memilih untuk menanti jawabannya, mungkin seiring dengan proyek ini, Pemerintah juga bakal mempercepat pembangunan infrastruktur internet di daerah tertinggal, agar sekolah yang menerima bantuan Laptop Pelajar ini juga dapat menikmati fasilitas mega proyek ini. Gua juga berharap, manajemen biaya bisa dipangkas sedikit saja untuk menambah anggaran di bidang percepatan perluasan internet.

Garansi Chromebooknya gimana?

Gua sendiri sudah berpengalaman menjadi teknisi laptop selama beberapa bulan terakhir dan tangan gua gatal banget untuk membahas bagian ini. Seperti yang kita tau, setiap unit Chromebook diberikan garansi satu tahun dari Zyrex atau vendor apapun yang nantinya bakal memproduksi Laptop Pelajar ini.

Garansi dan pelayanan aftersales adalah sektor yang paling krusial, setiap kali kita memutuskan untuk membeli barang elektronik apapun, khususnya laptop. Beberapa devices laptop kadang seringkali memiliki masalah yang unexpected, apalagi dibarengi dengan treatment yang tidak tepat dari pemilik laptopnya.

Ntar, laptopnya dikasih begitu aja untuk digunakan oleh pelajar. Katakanlah pelajar SMA udah melek bagaimana cara merawat dan ngetreat barang elektronik dengan hati-hati. Nah, gimana dong dengan pelajar SD atau SMP yang dikasih laptop begitu aja, tanpa ada edukasi sebelumnya. Rusak, malah disuruh ganti oleh pihak sekolah. Sedangkan, kerusakan elektronik yang disebabkan oleh kelalaian user tidak dilayani oleh garansi. Akhirnya, devices yang tadi pun rusak dan tidak bisa digunakan lagi.

Mungkin gua, bagian dari kalangan Tech Enthusiast, sudah tau tips optimalisasi laptop dan cara merawatnya dengan baik. Dan, yang terpenting, memahami jenis-jenis kerusakan apa saja yang TIDAK diterima oleh kebijakan garansi di servis centre resmi. Dan menurut gua, edukasi seperti ini harus diberikan dahulu kepada sekolah calon penerima Laptop pelajar, serta guru-guru atau siswa yang nantinya bakal mengoperasikan laptop itu.

Kalau bisa sih, gua sekalian berbagi tips.

Kerusakan Elektronik (Laptop) yang umumnya tidak diterima oleh service centre.

  • Kemasukan air. Mutlak, tidak bisa dinegosiasikan lagi. Garansi hangus.
  • Semua kerusakan akibat kesalahan dan kecerobohan manusia. Kemasukan air, ketimpa, layar pecah akibat dipukul, terjatuh, dan semua kerusakan yang bukan dari pabrik.
  • Stiker segel yang rusak karena adanya pembongkaran paksa yang bukan dilakukan teknisi servis resmi.
  • Kartu garansi hilang, rusak, atau dimodifikasi sehingga ga akan diterima oleh kebijakan garansi.

Peran pemerintah disini cukup penting, sebagai media edukasi dan penyuluhan dasar tentang penggunaan alat elektronik yang nantinya diterima—bukan hanya Laptop, tetapi dasar penggunaan alat peripheral seperti printer, scanner, router, dll. Kedua, sebagai pihak penjamin garansi untuk setiap alat elektronik didalam paket TIK. Jangan sampai pengennya menghemat anggaran, dananya malah dikorupsi, pembeliannya dilakukan secara tidak sah—bisa jadi barang illegal, black market, penyelundupan, sehingga otomatis tidak memiliki garansi yang resmi dan berlaku di seluruh Indonesia.

Semoga proyek ini dijauhkan dari orang-orang seperti itu.

Transparansi

Ngomong-ngomong soal potensi korupsi, oknum nakal itu sudah pasti ada. Entah orang-orang di bagian pengadaaan, pengelola dana hingga oknum yang mengurus negosiasi dengan vendor, potensi penyelewengan dana pasti ada. Tapi bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu. Kita bisa. Tapi agak sulit terealisasinya.

Kenapa gua bilang susah? Karena idealnya ada sebuah wadah dimana kita bisa memantau aliran dana untuk proyek ini. Pengennya sih proyek besar bernilai belasan triliun ini dibuatin sistem portal website khusus dimana masyarakat publik bisa mengakses info pembelian setiap Paket TIK, mulai dari unit yang paling mahal hingga yang paling murah sekalipun. Jadi, kita tahu uang pajak yang kita bayarkan setiap periode itu ngalirnya kemana. Gua sih bakal lebih rajin mengkampanyekan gerakan bayar pajak tepat waktu, asalkan aliran uangnya benar-benar tersalurkan ke proyek dan orang-orang yang benar-benar membutuhkan.

Penutup

Terima kasih banyak telah meluangkan waktu kamu yang berharga untuk membaca tulisan gua yang panjang banget ini. Semoga bisa membawa manfaat dan meluruskan misinformasi yang beredar di masyarakat kita. Kalau gua bisa berpesan, selalu teliti membaca setiap berita apapun—yang punya headline heboh biasanya lebih menjebak—dan selalu check&recheck setiap kali ada info baru yang kedengaran janggal.

Jangan lupa untuk tingkatkan terus wawasan kamu soal tech dan berbagai cabangnya, karena bakal bermanfaat banget untuk menghadapi kemajuan jaman yang terus berkembang—khususnya sih biar kamu bisa menanggapi isu-isu seperti ini dengan lebih logis dari sisi IT dan sisi efektifitas ekonomi.

Terima kasih, sampai jumpa di tulisan berikutnya.

Bahan Bacaan & Referensi

  • Harga laptop pelajar Rp 10 juta per unit, ini penjelasan Kemendikbud linknya disini
  • Program Pengembangan Laptop Merah Putih sebagai Karya Dalam Negeri “DIKTI EDU” – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia linknya disini
  • Penjelasan Kemendikbud soal Harga Laptop Pelajar Rp 10 Juta Per Unit Halaman all – Kompas.com linknya disini
  • Windows 10 system requirements linknya disini
  • Pemerintah Klarifikasi Anggaran Laptop Pelajar Rp10 Juta linknya disini
  • Perbedaan Laptop Merah Putih dan Laptop Pelajar Rp10 Juta linknya disini
  • Heboh Laptop Merah Putih Spek Rendah Rp 10 Juta, Benarkah? linknya disini
  • PSI: Harga Laptop Merah Putih Rp10 Juta Berlebihan untuk Siswa – Tirto.ID linknya disini

Default image
Pieter Mardi
Penulis, Mahasiswa, Tech Anthusiast. Ketua Umum FPI. Front Pelindung Introver. Semua tulisan dibuat dengan passion saya di bidang teknologi dan bahasa Inggris. Untuk sapa-sapa hubungi [email protected]

Berkomentar dapat melegakan pikiran. Cobalah!

error: Mohon maaf. tapi konten ini diproteksi!