Why Am I Not Surprised? Talking About Coronavirus and Self-Quarantine

Sebelum kita mulai, izinkan gue bersyukur dulu kepada Tuhan YME karena gue masih diizinkan hidup sehat ditengah pandemi ini, dan tentunya buat kalian para pembaca sekalian. Hampir setiap detik Dia melepaskan gue dari penularan virus Corona yang tak terlihat, tak terdeteksi, dan siapa saja bisa jadi penular. Saat ini, Coronavirus atau simpelnya, COVID-19 sudah menginfeksi hampir 2 juta orang, dan membunuh setidaknya 100 ribu orang di seluruh dunia. Update terbaru, Pemerintah Indonesia baru saja membuka data kasus COVID keseluruhan, totalnya ODP sebanyak 139.137 orang, dan PDP sebanyak 10.482 orang.

Why am i not surprised? Udah gue duga. Indonesia punya 250 juta penduduk, dan kita heran kenapa angka positif COVID-19 kita masih bergelut di nominal ribuan? Langkah mereveal data tsb mungkin dilakukan pemerintah untuk meyakinkan masyarakat bahwa virus ini tidak main-main. Penyebarannya sangat masif dan cepat. Gue jadi agak khawatir, walaupun gue selalu dirumah, tapi dalam sebulan terakhir gue masih sering mengabaikan himbauan pemerintah untuk bepergian, membeli bahan makanan ke mall atau ke toko grosiran terdekat.

Kita bisa lihat pemeriksaan suhu tubuh dimana saja kita pergi. Mall, fasilitas pelayanan publik, terminal, bandara, dll.

Mall memang salah satu lokasi yang cukup sepi belakangan ini, dan gue yakin orang-orang tidak cukup bodoh bepergian ke mall hanya untuk nongkrong atau sekedar cuci mata. Tapi tidak dengan pusat perbelanjaan yang ada didalamnya. Setiap hari, banyak pengunjung terlihat memenuhi supermarket didalam Mall, untuk membeli banyak kebutuhan sehari-hari, gue juga termasuk. Dengan risiko penyebaran virus melalui droplet yang tidak mengenal lokasi, keamanan untuk memasuki mall semakin ditingkatkan, penyediaan fasilitas cuci tangan dan hand sanitizer gratis di beberapa titik, hingga aturan mengantri yang mewajibkan pelanggan untuk menjaga jarak dengan orang dibelakangnya.

Penyediaan hand sanitizer yang digunakan khusus untuk sanitasi, dilihat sebagai peluang oleh segelintir oknum. Everyday, we stray away from God.

Menjelang malam hari sehabis balik dari mal, akan ada mobil patroli melewati beberapa jalan besar di Medan, sambil terus mengingatkan warga untuk tetap dirumah, dan jangan bepergian kecuali menyangkut hal yang sangat penting. Beberapa tempat usaha yang mengandalkan keramaian sebagai pemasukan utamanya, seperti warung internet, kafe, diskotik di Medan terpaksa ditutup. Tempat usaha makanan tidak mengizinkan pelanggannya makan secara dine in, dan diwajibkan untuk membawa pulang makanan ke rumah. Itu langkah terakhir yang kedengarannya tidak buruk untuk mempertahankan usaha tanpa harus menambah penyebaran virus ini.

Namun kadang, jalanan masih saja ramai, dan sebagian orang masih hilir mudik tanpa mengenakan masker. Ga heran sih, harga masker sudah tidak masuk akal disini. Beda halnya dengan masker kain. Harganya masih rasional dan bahkan bisa dibuat sendiri dirumah. Kita mungkin tidak tahu tujuan mereka keluar rumah untuk apa. Apa mereka sekedar hanya ingin mencari dan menanyakan stok hand sanitizer, disinfektan, obat-obatan, atau kebutuhan medis lainnya, yang sangat langka belakangan ini, dari apotik ke apotik.

Mungkin apabila pihak-pihak tertentu stop menimbun produk serta mencari untung di situasi genting seperti ini, kelangkaan seperti ini gabakalan terjadi sih. Apa gunanya menghimbau semua orang untuk tetap dirumah, sementara mereka masih mengkhawatirkan alat-alat pendukung kesehatan mereka sendiri. Ujungnya, himbauan untuk #StayHome cuma dianggap slogan belaka, itung-itung tambahan hashtag biar keliatan keren setiap kali ngepos sesuatu di sosial media. Pansos adalah sebagian dari iman.

Bagi beberapa orang mungkin kedengarannya sepele. Tapi, dengan tetap dirumah, lo dan gue udah menyelamatkan banyak orang. Kita sendiri, adik, kakak dan orangtua dirumah yang sangat kita sayangi. Plus, jika didaerah tempat kamu tinggal sudah ada pasien yang positif atau bahkan meninggal dunia, please sadar bahwa virus COVID-19 ini sudah didepan mata. Virus berbahaya ini sudah tiba ke lingkungan rumah kita yang paling dekat, dan satu-satunya proteksi terakhir adalah mengurung diri dirumah sambil menjaga kebersihan dan kesehatan diri semaksimal mungkin.

Langkah menjaga kebersihan diri dengan mudah. Mencuci tangan hingga ke sela-sela jari selama 20 detik. Menggunakan tissue untuk menutup mulut ketika hendak batuk atau bersin, dan mengurangi intensitas menyentuh wajah.

Sebenarnya gue sedikit bahagia, karena dengan merebaknya kasus COVID-19 ini, orang-orang jadi tersadarkan lagi dengan kebiasaan yang harus dan wajib dilakukan (bahkan dalam situasi normal dan bukan hanya saat pandemi seperti ini), yakni mencuci tangan. Kita menyentuh banyak hal seharian, kita berjabat tangan dengan siapa saja, kita menyentuh wajah kita dengan tangan, kita menelan makanan dan minuman apa saja dengan terlebih dahulu menyentuhnya dengan tangan. Dengan memastikan tangan kita tetap higienis, kita telah menerapkan proteksi dari virus, setidaknya dari diri sendiri.

Kuncinya ternyata hanya sesederhana menerapkan physical distancing dengan benar, menjauh dari keramaian dan menjaga kebersihan diri. Voila! You’re safe. Hanya itu yang pemerintah inginkan dari beberapa program PSBB yang sedang digalakkan saat ini. Memutus rantai penyebaran virus COVID agar tidak menyasar ke target yang baru. Biarkan pasien yang saat ini yang sedang dirawat berjuang menyembuhkan diri, dan kita berdoa agar angka kesembuhan terus membaik setiap harinya. Sisanya, please, jangan ada lagi penambahan kasus positif baru. Dan skenario itu hanya bisa terjadi kalau kita mulai menuruti himbauan pemerintah untuk Stay Home.

Masalahnya, karantina diri itu mengesalkan, membosankan, sekaligus mengancam hidup beberapa lapisan masyarakat. Pengecualian untuk orang-orang yang literally have anything in their house, punya stok makanan berlimpah, fasilitas hiburan yang sangat bervariasi, koneksi WiFi rumah super cepat, dan punya tools pekerjaan yang sangat memadai (apalagi pekerjaannya bisa dilakukan dari rumah) sehingga dia tetap bisa bekerja dan memperoleh penghasilan, tanpa harus merasakan kekhawatiran para supir ojol, penjual makanan, atau pekerja serabutan dengan upah harian. Which means, tidak kerja hari itu juga, ya ga bisa dapat duit. Mau makan dari mana?

Bukan Kartu Gaji Pengangguran, tetapi Kartu Pelatihan Kerja. Anggota Kartu Prakerja ini bakal menerima insentif yang jumlahnya mencapai Rp 3.550.000.

Jika kabar tentang Kartu Prakerja dari pemerintah yang menawarkan bantuan Rp. 3.550.000 bagi para pekerja PHK benar adanya, syukur kepada Tuhan. Itu sudah cukup membantu. Dengan adanya bantuan seperti itu, saya hanya berharap masyarakat sudah mulai bisa melepas kekhawatiran tentang biaya hidup, dan mungkin mempelajari keahlian baru untuk mencari nafkah. Ketika masyarakat sudah merasa aman untuk tinggal dirumah, akhirnya kebijakan self quarantine akan berhasil, penyebaran pandemi ini segera berakhir, dan kita bisa balik lagi ke kehidupan normal kita.

WOULD YOU STOP TRYING TO KILL US, FOR FIVE MINUTES??

-Shrek

Ngomong-ngomong, tahun 2020 memang sangat tidak bersahabat dengan kita. Berita yang bergantian menghiasi headline hanya bencana, kematian, dan bencana. Banjir hebat (lagi) di Jakarta, Isu Perang Dunia ke III yang sempat memanas antara USA dan Iran, kebakaran hutan massif di Australia, hingga pandemi Coronavirus alias COVID-19 yang kasus pertamanya muncul di akhir Desember tahun lalu, dan jelas semakin parah hingga hari ini. Semua event massal dibatalkan. Seluruh kegiatan keagamaan, olahraga, konser, dan semua acara yang menyebabkan massa berkumpul terpaksa dibatalkan atau ditunda.

Liga-liga dan kompetisi sepakbola di seluruh dunia dibekukan, dan ada beberapa yang tetap dimainkan tanpa penonton. Operator yang menjalankan Liga Belarus goblok ga ngotak, dengan tetap memainkan pertandingan liga mereka. Namun penonton tetap dihimbau tetap menjaga jarak antar bangku penonton. Liverpool. Satu kata yang simpel, dan beberapa orang sudah tertawa miris mendengarnya. Mereka menanti trofi PL pertamanya dalam 30 tahun terakhir. Sudah unggul 25 poin dari peringkat kedua, Manchester City, dan hanya butuh setidaknya dua kemenangan lagi untuk merengkuh titel juara. But, Coronavirus has arrived, sayin hold my beer. Akhirnya liga ditunda untuk sementara, dan belum ada kejelasannya hingga hari ini.

Tiga puluh tahun. Penantian yang sangat lama. Gelar juara yang sudah didambakan, bahkan Gerrard sekalipun tidak sanggup mewujudkannya. Dua kemenangan lagi mampu mengunci gelar juara. Hfftt, gara gara Coronavirus.

Negara-negara dengan kasus tertinggi sekarang ini, seperti Italy, Amerika Serikat, China dan beberapa negara Eropa sudah menerapkan lockdown, walaupun masih terbatas di suatu wilayah dan daerah. Persebaran virus harus ditekan dengan keras, dan lockdown seolah menjadi jalan satu-satunya yang terbaik. Indonesia sudah menerapkan lockdown dengan bahasa lokal, PSBB namanya, namun hanya diberlakukan di Jakarta. Konon Tangerang dan Bandung sudah meminta izin untuk melakukan kebijakan yang sama.

Jumlah kasus terkonfirmasi sudah mencapai 1.981.239 kasus, 486.622 sembuh, dan angka kematian mencapai 126.681. Data per 15 April 2020 pukul 14:40. Dilansir dari Google dan Wikipedia

Orang-orang terpaksa bekerja dan beraktifitas dari rumah. Dan untuk sementara ini, HARUS tetap tinggal dirumah. Setidaknya sampai ada berita baik mengatakan angka kasus positif berhenti, atau mungkin berita tentang vaksin yang sedang dikerjakan oleh ilmuwan untuk virus ini akhirnya berhasil melewati tahap pengujian dan sukses.

Sampai semua itu terjadi, dan akan terjadi, kita harus tetap dirumah.

Apa yang harus kita lakukan di rumah? Gue bisa berikan beberapa masukan dan rekomendasi.

  • STAY THE FUCK HOME

Ini yang berkali-kali harus gue tegaskan melalui pos ini. Dengan tetap dirumah, kita sudah melindungi diri, keluarga dari paparan virus berbahaya ini. Ingat, pandemi ini tidak sama dengan wabah Zombie yang kita tonton di Netflix. Ketika kamu ngeliat zombie, kamu bakal sebisa mungkin menjauhi mereka, karena kamu tahu (1. Ketika kamu digigit atau somehow tertular oleh mereka, kamu bisa terinfeksi dan berubah rupa menjadi mereka. Kamu tahu siapa yang harus dijauhi dan kemana harus melangkah. 2. Ketika zombie mendekat, kamu akan tahu tempat bersembunyi yang aman, dimana tidak ada keberadaan mereka)

Zombie bisa kamu kenali dengan ciri-ciri yang jelas. Tapi tidak dengan orang yang terinfeksi COVID-19. Mereka tampak seperti orang sehat pada umumnya.

Dalam kasus COVID-19, semua orang bisa saja jadi pembawa dan penular virus, tanpa ciri-ciri tertentu yang obvious. Kamu bisa mengenali zombie dari tampang mereka yang menjijikkan, tapi tidak dengan virus ini. Orang yang mengidap virus ini kelihatan seperti orang yang sehat. Dia hanya bersin satu kali, kamu pikir dia alergi. Dia hanya batuk satu kali, kamu berpikir dia mencoba mengusirmu karena kamu sedang merokok didekatnya. Dia hanya satu kali mengirimimu pesan Hai, dan kamu sudah memikirkan skenario hidup bahagia bersamanya.

Semua orang di luar rumahmu bisa jadi adalah pembunuh. Dengan jurus satu droplet, dia akan menularkan virusnya kepadamu. Kamu tidak akan sadar dalam beberapa hari. Pernah dengar pasien COVID-19 tanpa gejala? Dan begitu kamu pulang kerumah, tanpa sadar kamu menularkannya lagi ke anggota keluargamu. Berharap saja skenario itu tidak pernah terjadi.

  • Jaga kesehatan dan kebersihan diri, tempat tinggal.

Menuci tangan sehabis bepergian dari luar, atau dirasa memegang dan menyentuh banyak benda sepanjang hari ini. Tangan adalah organ tubuh yang sangat krusial dan perlu dijaga kehiegenisannya. Rajin-rajin mengelap perabotan rumah, objek yang sering dipegang bersamaan, seperti gagang pintu, meja, telepon rumah, remote TV, dan sebagainya. Kamu bisa mengepel lantai rumah setiap hari dengan cairan khusus, agar bebas dari kuman. Kamu juga perlu menjaga kesehatan dengan pola makan yang berimbang secara nutrisi, minum vitamin apabila diperlukan, dan membiasakan diri berolahraga serta berjemur di terik matahari. Tidak perlu keluar rumah, cukup di teras rumah kok.

  • Ikuti terus pantauan berita terbaru tentang Virus ini

Ikuti dan pahami berita terkini hanya dari penyedia berita terpercaya. Pantau terus info pencegahan dan edukasi tentang COVID-19 dari praktisi kesehatan, WHO, laman Kemenkes, dan beberapa video Youtube yang bermanfaat.

The Coronavirus Explained & What You Should Do by Kurzgesagt

Please, jangan terlalu cepat percaya dengan info beredar di grup whatsapp keluarga, atau broadcast dari siapa saja. Pertanyakan validitas info didalamnya. Sebagian orang hanya ingin menciptakan keresahan diantara masyarakat, membuat kepanikan, dan mungkin memiliki tujuan akhir menurunkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Itu bisa jadi sangat berbahaya karena bisa dimanfaatkan dan ditunggangi oleh pihak-pihak tertentu untuk tujuan yang tidak baik. Apabila menemukan berita hoax seputar COVID-19 ini, laporkan saja ke pihak terkait. Mereka biasanya menyediakan akun sosial media khusus untuk melaporkan hoax tersebut.

  • Physical and Social Distancing

Jaga jarak minimal 1-2 meter ketika mengantri disuatu tempat, terutama jauhi keramaian, dan selalu menjaga jarak ketika berjalan dengan seseorang di tempat umum. Jangan ada kedekatan diantara kita, jangan ada dusta diantara kita. Seperti yang gue katakan sebelumnya, dalam situasi seperti ini, tidak ada orang yang sepenuhnya bisa dipercaya. Orang saja bisa bohong kok ketika ditanyain riwayat bepergiannya oleh petugas medis, ketika sedang mengikuti pemeriksaan. Tetap waspada, tapi jangan panik. Panik berlebihan hanya malah membuat kita overeaktif ketika berdekatan dengan yang orang lain.

  • Have some fun. Bersenang-senanglah!

Last but not least, this is how we will spent our time when we’re in quarantine. Bersenang-senanglah, manfaatkan fasilitas entertainment yang kamu miliki. Kamu punya buku yang belum sempat kamu tamatin? Baca. Kamu punya koleksi lagu? Dengarkan. Beberapa provider seperti Telkomsel, Indosat, dll menawarkan kuota melimpah dengan harga terjangkau, dan bahkan ada yang memberikan kuota khusus edukasi secara gratis. Kan lumayan. bisa nambah ilmu ketika karantina dirumah.

Beruntung bagi kalian yang punya fasilitas wifi dirumah, dan jika kalian cukup cerdas memanfaatkannya, semua yang kamu butuhkan ada di internet. Baca beberapa ebooks, menonton film streaming dari provider berbayar, learn new skills, dan lakukan apa saja yang menurut kamu menyenangkan untuk memanfaatkan waktu luang.

TAKE THE POSITIVE THINGS ONLY

Kita harus senantiasa mencari hal-hal positif dari segala situasi, bahkan didalam pandemi seperti ini. Ada beberapa manfaat positifnya, seperti, kita bisa semakin sering berkumpul dirumah bareng keluarga. Hei, kapan terakhir kali sebelum pandemi ini, kamu makan malam bareng keluarga? Belakangan ini, gue jamin pasti sudah sering. Beberapa pelaku meme di internet bahkan menyinggung isu soal Bumi yang memulihkan diri. Polusi udara yang menurun drastis di beberapa negara, dan berita tentang lumba-lumba yang belakangan ini terlihat kembali di Kota Terapung di Italia.

Gue percaya, ada rencana indah dibalik musibah ini, dan apabila kita mulai meninggalkan ego dan pendirian masing-masing untuk mengikuti himbauan pemerintah dan WHO, pandemi ini akan segera berakhir. Kalau boleh mengutip lirik lagu The Chainsmokers yang berjudul, Do You Mean, ada lirik yang berbunyi everything happens for a reason. Semua yang terjadi, pasti ada alasannya.

Terima kasih telah membaca.

Default image
Pieter Mardi
Penulis, Mahasiswa, Tech Anthusiast. Ketua Umum FPI. Front Pelindung Introver. Semua tulisan dibuat dengan passion saya di bidang teknologi dan bahasa Inggris. Untuk sapa-sapa hubungi [email protected]

2 Comments

Leave a Reply to SSD OTG Cancel reply

error: Mohon maaf. tapi konten ini diproteksi!
%d bloggers like this: